“Antara Menjaga Hutan dan Menghidupi Keluarga: Jejak Pembabakan Alam, Kesadaran Warga, dan Tanggung Jawab Negara”

Antara Menyelamatkan Alam atau Menyelamatkan Keluarga? Di Atas Jejak Pembabakan Hutan yang Terus Berlanjut
Oleh : Muhammad yahya
Tourism students and the Gen Z generation. Pumuda Sp NTB
  Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, budaya serta adat istiadat. Indonesia terdiri dari 38 provinsi yang setiap provinsinya memiliki alam yang indah dan pohon yang besar. Di pinggiran negara yang jauh dari ibukota ada hutan yang dulu rimbun, Iya, pada masa lalu, sebagian besar manusia memang hidup di sekitar atau di tengah hutan dengan alam yang relatif lebih sehat dan terjaga. Secara singkat, di masa prasejarah dan awal sejarah, manusia bergantung langsung pada hutan untuk makanan buruan, buah-buahan, tempat berteduh, bahan buat alat, dan obat-obatan. Alam pada waktu itu belum terlalu terganggu oleh aktivitas manusia karena jumlah penduduk masih sedikit dan teknologi belum seadvanced sekarang jadi hutan tetap rimbun, sungai tetap jernih, dan keanekaragaman hayati tetap tinggi.
Namun, tidak semua manusia dulu hidup di tenggah hutan saja ada juga yang tinggal di tepi sungai, pantai, atau dataran yang subur untuk bertani. Tapi yang pasti, hubungan mereka dengan alam jauh lebih erat dan ketergantungan langsung lebih besar dibandingkan sekarang. sehingga pada suatu ketika ada sebuah tangan yang kusam masih terasa lengket debu kayu yang baru saja di tebang "Aku tahu ini salah buat alam," katanya pelan, "tapi bagaimana kalau anak-anakku tidak bisa makan?"
Itulah konflik yang nyata bagi banyak warga di sekitar hutan, di satu sisi, mereka melihat hutan sebagai "toko alam" yang memberi makanan, kayu bakar, dan tempat berteduh. Tapi ketika permintaan lahan pertanian atau perkebunan makin besar, banyak yang terpaksa ikut membabat hutan bukan karena mau merusak, tapi karena itu satu-satunya cara yang mereka tahu buat cari nafkah untuk keluarga. Di sisi lain, setiap pohon yang tumbang membuat tanah jadi gersang, sungai jadi kering, dan banjir makin sering melanda bahaya yang juga mengancam keluarga mereka sendiri. Pembabakan hutan yang terus berlanjut bukan hanya merusak habitat satwa dan menambah polusi udara. Ia juga merusak keseimbangan ekosistem yang sebenarnya sudah melindungi warga selama bertahun-tahun. Ketika hutan hilang, air hujan langsung mengalir ke permukaan tanah, menyebabkan longsor dan banjir yang menghancurkan rumah dan ladang yang justru membuat keluarga mereka makin terjebak dalam kesulitan.
Tapi bukankah itu pilihan yang tidak ada jalan keluar? Bukan semuanya. seharusnya kita terus menjaga alam itu agar alam menjaga kita dari kehidupan selanjutnya, Misalnya, warga mulai mengganti pembabakan hutan dengan budidaya tanaman campuran (agroforestri) mereka menanam padi, jagung, dan buah-buahan di antara pohon-pohon yang masih ada. Begitu, mereka tetap dapat nafkah untuk keluarga, tapi hutan juga tetap terjaga dan melindungi tanah dari longsor. "Satu pohon bisa menciptakan nafas kehidupan tetapi satu tangan bisa merusak rubuan pohon" ujar Muhammad yahya
mari kita jaga alam, pemerintah juga harus tegas dalam menjaga alam dan buatkan program yang membayar warga untuk menjaga hutan sebagai "penyimpan karbon". Warga tidak lagi membabat hutan, tapi malah dibayar untuk merawatnya dan uang itu sedikit cukup buat memenuhi kebutuhan keluarga walaupun masih kurang dan mereka akan paham bahwa alam itu sangat penting, Ini membuktikan bahwa "menyelamatkan alam dan "menyelamatkan keluarga" tidak selalu harus saling bertentangan. coba mulai berpikir ulang. Setelah melihat banjir melanda di setiap pelosok negeri tahun ini karena hutan di atas bukit dibabat, kita harus saling sadar bahwa menjaga hutan adalah menjaga warga, menanam pohon di lahan yang sudah tidak dipakai. Itu akan membantu anak cucu merasakan udara alam. Ada harapan seorang ayah untuk anaknya "Mungkin nanti anak-anakku tidak perlu membabat hutan lagi," katanya dengan harapan. "Mereka bisa hidup dari alam yang sehat, bukan dari merusaknya."
Kesadaran yang tunbuh dari diri untuk "Hutan yang Harus Dijaga"
    Di tengah kebisingan pembabakan hutan yang terus berlanjut, ada cahaya harapan, kesadaran kita semua atau warga sekitar hutan dan masyarakat luas untuk menjaganya mulai tumbuh dan itu bikin perbedaan nyata. Banyak warga yang dulunya hanya melihat hutan sebagai tempat ambil kayu atau lahan buat tanam, sekarang mulai menyadari, hutan itu bukan cuma "sumber" yang bisa habis, tapi "pelindung" yang melindungi keluarga mereka dari banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Kesadaran ini tidak muncul pada kesadaran kita sendiri. mari mulai berpartisipasi dalam aksi tanam pohon, mendukung produk dari petani yang ramah lingkungan, atau menolak barang yang dibuat dari kayu hutan liar. Bahkan di media sosial, banyak orang berbagi cerita tentang pentingnya hutan bikin lebih banyak orang sadar bahwa masalah hutan itu masalah kita semua, bukan cuma warga di sekitarnya.
Kesadaran yang tumbuh itu seperti benih, butuh waktu buat tumbuh, tapi kalo dipelihara dengan baik, nanti akan menjadi hutan yang rimbun lagi. Dan ketika semua orang sadar bahwa menjaga hutan itu sama pentingnya dengan menjaga keluarga, maka pembabakan hutan yang terus berlanjut bisa benar-benar berhenti. Konflik di atas pembabakan hutan yang terus berlanjut memang sulit. Tapi ketika kita melihatnya bukan sebagai "pilihan antara dua hal", melainkan sebagai "cara buat memadukan keduanya", ada harapan untuk masa depan di mana keluarga terjaga, dan alam juga tetap lestari.
Pemerintah Penjaga Hutan atau Pelanggar Perlindungan? Ketika Bisnis Politik Bertabrakan dengan Alam
     Di tengah deru mesin pembabakan dan kebakarannya hutan di beberapa daerah, banyak orang bertanya: "Dimana letak peran pemerintah yang seharusnya menjaganya?" Peran pemerintah sebagai penjaga utama hutan memang krusial, tapi seringkali terjebak dalam konflik dengan kepentingan bisnis dan politik membuat harapan untuk hutan yang lestari terasa jauh. Peran yang Seharusnya, Pemerintah Sebagai Pelindung Alam Secara konstitusional dan kebijakan, pemerintah Indonesia memiliki tugas untuk melindungi sumber daya alam, termasuk hutan. Beberapa peran yang seharusnya mereka lakukan, Membuat undang-undang tegas, Seperti Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang melarang pembabakan hutan ilegal dan menetapkan kawasan lindung. Juga Menetapkan kawasan perlindungan, Sampai sekarang, ada lebih dari 500 taman nasional dan cagar alam di Indonesia yang ditetapkan untuk melindungi ekosistem dan satwa endemik. Juga Mendukung komunitas lokal, Memberikan bantuan teknis dan keuangan untuk cara hidup berkelanjutan, seperti agroforestri atau program "jaga hutan berbayar" yang membuat warga mendapatkan nafkah tanpa merusak hutan. Juga Menegakkan hukum, Menindak pelaku pembabakan ilegal, perburuan liar, dan pelanggaran perlindungan lingkungan.
Konflik dengan Bisnis Politik, Ketika Hutan Menjadi Korban, Namun, realitasnya tidak selalu sesuai harapan. Banyak kasus menunjukkan bahwa kepentingan bisnis dan politik seringkali mengalahkan tujuan perlindungan hutan. Seperti Izin proyek yang merusak, Kadang pemerintah mengizinkan pembukaan hutan untuk proyek perkebunan kelapa sawit, tambang, atau jalan raya tanpa melakukan penilaian dampak lingkungan yang cermat. Ini membuat ribuan hektar hutan hilang dalam waktu singkat. Juga karena adanya Korupsi dan pengaruh politik, Beberapa kasus menunjukkan bahwa izin pembabakan diberikan secara ilegal karena adanya suap atau pengaruh dari kalangan berkuasa. Hal ini membuat undang-undang perlindungan hutan hanyut dan pembabakan ilegal tetap berlangsung. pemerintah juga melakukan Kepentingan jangka pendek, Kadang keuntungan ekonomi jangka pendek (seperti pajak dari bisnis) atau keuntungan politik (seperti dukungan dari pengusaha) lebih diutamakan daripada perlindungan hutan jangka panjang yang melindungi masyarakat dari bencana alam.
Cahaya Harapan, Langkah Positif yang Sudah Dilakukan
    Meskipun begitu, Pemerintah harus tegas dan melakukan langkah positif untuk memperkuat perlindungan hutan, Bentuk BPKHL, Badan Penyelidikan Kejahatan Lingkungan (BPKHL) dibentuk untuk menindak pelanggaran lingkungan dengan lebih tegas. Sampai 2025, pemerintah harus menjalankan dan menangkap ratusan pelaku pembabakan hutan ilegal. Bangun Program "Maju Tanpa Membabat Hutan" Program nasional yang bertujuan mengurangi pembabakan hutan dengan mempromosikan pertanian yang efisien dan pengembangan ekonomi yang tidak bergantung pada merusak alam. Buatkan kebijakan lokal yang lebih baik, buatkan kebijakan disetiapn daerah lokal melindungi hutan wilayahnya, provinsi, seperti NTB, Riau, Kalimantan Timur, Aceh dan sumatra atau lainnya.
Waktu untuk Komitmen yang Lebih Kuat bukan sekedar omong-omong
     Peran pemerintah dalam menjaga hutan adalah tugas yang tidak bisa dihindari. Meskipun ada tantangan dari kepentingan bisnis dan politik, langkah positif yang telah diambil menunjukkan bahwa perubahan bisa terjadi. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen yang lebih kuat untuk memisahkan kepentingan pribadi atau kelompok dari kebijakan perlindungan lingkungan sehingga pemerintah benar-benar berperan sebagai penjaga hutan, bukan pelanggarnya. Hutan yang lestari bukan hanya untuk alam, tapi juga untuk masa depan keluarga dan generasi mendatang kita.
HUTAN ADALAH MILIK KITA SEMUA 🌳

Comments

Popular posts from this blog

ANTARA PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN : DIKOTOMI YANG KELIRU DALAM MEMBANGUN BANGSA

KETUA PEMUDA DUSUN MAWU DALAM MENGECAM KERAS ATAS PENGGELAPAN UANG NASABAH OLEH UPC PEGADAIAN KECEMATAN AMBALAWI